Senin, 04 September 2017

Media Sosial Yang Di Sekolahkan





Beberapa tahun ini saya sangat sedikit merasa emosional melihat media sosial yang kebanyakan menyebarkan berita-berita Hoaks. Belum lagi kalau itu berkaitan dengan agama.

Dahulu saya adalah orang yang kurang begitu aktif dalam nuansa keagamaan. Pada saat saya duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) di situlah saya baru sangat senang dan aktif untuk berdiskusi mengenai keagamaan.

Alasan yang paling mendasar kenapa saya bisa jadi seneng dan berkumpul dengan orang-orang yang tergabung dalam aktifis dakwah itu adalah karena mereka baik-baik, sangat ramah dan menjadikan saya seperti saudara sendiri yang padahal baru saja kenal. 

Kebetulan saya terpilih masuk di sebuah sekolah yang rata-rata siswanya pada pinter-pinter. Jadi di kelas itu pada awal masuk sekolah saya seperti tidak ada temen, karena mereka terasa nyambung aja satu sama lain, sama-sama pinter dan sangat gemar membaca sedangkan saya sangat males membaca dan kurang pinter dalam memahami pelajaran.

Sempat kepingin pindah sekolah namun melihat karena banyak yang kepingin sekolah di situ namun engak bisa lulus, ya sudah mungkin ini jalan yang terbaik bagi kehidupan ke depan, ya terserah mau di bilang paling bodoh jalanin aja.

Pada awalnya saya duduk sendiri yang lain satu meja dua orang, sedangkan saya satu meja satu orang dan bangku di sebelah saya kosong karena kebetulan siswa di kelas itu ganjil jadi harus ada yang sendiri, dan saya duduk paling belakang di sudut paling kiri dari meja guru.

beberapa bulan berjalan ternyata ada penyaringan siswa untuk di tempatkan pada dua kelas yang bertaraf internasional. Oleh sebab itu ada dua orang yang terpilih dari kelas saya dan kalau tidak salah ada tiga orang yang masuk di kelas saya sehingga jumlah siswa menjadi genap.
Saya tidak duduk sendiri lagi, namun satu meja dengan seorang perempuan. Perasaannya setelah dapet temen satu bangku biasa aja si, namun lama-lama jadi semangat karena dia pinter dan sangat terbuka untuk mengajari semua pelajaran.

Namun yang sempat jadi masalah itu temen satu bangku yang pindahan dari lupa ntah kelas mana sempat merasa histeris karena satu bangku dengan saya, selama tiga hari dia nangis sehabis pulang sekolah, padahal selama jam pelajaran berlangsung dia biasa aja tanpa ada rasa sedih di wajahnya, namun ternyata setelah pulang sekolah air matanya tidak tertahankan untuk tidak keluar, katanya dia sangat takut satu bangku dengan saya, padahal saya termasuk orang pendiam, untunglah beberapa temennya memberikan semangat hingga dia merasa tenang dan menerima karena di takdirkan untuk satu bangku dengan saya. yang jelas dia termasuk sosok inspirasi jugak, selalu memberikan semangat dan selalu meyakinkan bahwa saya itu bisa mengikuti pelajaran di sekolah.  




Sebenarnya saya bukan ingin bercerita mengenai sejarah persekolahan saya, saya ingin bercerita bagaimana kondisi media sosial saat sekarang ini. namun kadang tangan ini merasa ragu untuk menuliskannya apa lagi mengenai keagamaan.

 Saya tidak terlahir di dalam lingkungan pesantren atau di dalam lingkungan yang sangat bernuansa keagamaan. Semua berjalan biasa saja seperti orang lain pada umunya. Pengetahuan agama pun sangat kurang.

Namun dengan kegalauan itu lah saya memberanikan diri untuk melanjutkan ke perguruan tinggi yang bernuansa keagamaan. Alhamdulilah saya lulus di Universitas Inslam Negeri Sumatera Utara atau dulu namanya IAIN, saya mengambil jurusan manajemen dakwah.
Pada awalnya saya tidak tau mata kuliah apa saja yang saya akan pelajari selama empat tahun ke depan. Lulus dari sekolah umum sangat asing ketika pada mulanya saya melihat nama-nama mata kuliah yang akan di pelajari setiap semester.

Pada awalnya tidak begitu yakin untuk dapat menjalanin perkuliahan yang nama mata kuliahnya aja begitu agak ngeri seperti yang sudah sangat pinter mengenai keagamaan, di tambah lagi temen-temen sekelas umumnya adalah lulusan dari pesantren.

Namun ya sudah lah, mungkin ini yang terbaik dan ini jalan untuk bisa mengetahui tentang bagaimana cara beragama yang terbaik.

Seiring berjalannya waktu, saya menyadari agama itu indah, agama itu damai, agama itu tulus penuh kejujuran, agama itu sangat toleransi, agama itu sangat memberikan kebaikan, agama itu memberikan kesempatan, dengan itulah saya heran kenapa begitu banyak orang sekarang mengatas namakan agama namun bertindak tidak berdampak kedamaian. Apakah menjust buruknya pemerintahan dengan cara-cara menyebarkan fitnah itu di perbolehkan.

Saya memang bodoh saya tidak banyak tau mengenai tafsir dan kandungan tebalnya sebuah kitab, namun yang jelas, Tuhan akan tahu yang mana orang-orang yang benar-benar tunduk kepadaNya dan yang mana orang-orang berkhianat.  


lakukan lah walau kamu rasa itu tidak mungkin, sebarkan kebaikan karena berbuat baik tidak susah, jangan pernah menyombongkan diri, karena kamu tidak akan pernah tau cerita hidupmu ke depan, hargailah orang yang berusia lebih tua dari mu, dan hormati orang tua. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar