Beberapa
tahun ini saya sangat sedikit merasa emosional melihat media sosial yang
kebanyakan menyebarkan berita-berita Hoaks. Belum lagi kalau itu berkaitan
dengan agama.
Dahulu
saya adalah orang yang kurang begitu aktif dalam nuansa keagamaan. Pada saat saya
duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) di situlah saya baru sangat senang
dan aktif untuk berdiskusi mengenai keagamaan.
Alasan
yang paling mendasar kenapa saya bisa jadi seneng dan berkumpul dengan
orang-orang yang tergabung dalam aktifis dakwah itu adalah karena mereka
baik-baik, sangat ramah dan menjadikan saya seperti saudara sendiri yang
padahal baru saja kenal.
Kebetulan
saya terpilih masuk di sebuah sekolah yang rata-rata siswanya pada
pinter-pinter. Jadi di kelas itu pada awal masuk sekolah saya seperti tidak ada
temen, karena mereka terasa nyambung aja satu sama lain, sama-sama pinter dan
sangat gemar membaca sedangkan saya sangat males membaca dan kurang pinter
dalam memahami pelajaran.
Sempat
kepingin pindah sekolah namun melihat karena banyak yang kepingin sekolah di
situ namun engak bisa lulus, ya sudah mungkin ini jalan yang terbaik bagi
kehidupan ke depan, ya terserah mau di bilang paling bodoh jalanin aja.
Pada
awalnya saya duduk sendiri yang lain satu meja dua orang, sedangkan saya satu
meja satu orang dan bangku di sebelah saya kosong karena kebetulan siswa di
kelas itu ganjil jadi harus ada yang sendiri, dan saya duduk paling belakang di
sudut paling kiri dari meja guru.
beberapa
bulan berjalan ternyata ada penyaringan siswa untuk di tempatkan pada dua kelas
yang bertaraf internasional. Oleh sebab itu ada dua orang yang terpilih dari
kelas saya dan kalau tidak salah ada tiga orang yang masuk di kelas saya
sehingga jumlah siswa menjadi genap.
Saya
tidak duduk sendiri lagi, namun satu meja dengan seorang perempuan. Perasaannya
setelah dapet temen satu bangku biasa aja si, namun lama-lama jadi semangat
karena dia pinter dan sangat terbuka untuk mengajari semua pelajaran.
Namun
yang sempat jadi masalah itu temen satu bangku yang pindahan dari lupa ntah
kelas mana sempat merasa histeris karena satu bangku dengan saya, selama tiga
hari dia nangis sehabis pulang sekolah, padahal selama jam pelajaran berlangsung
dia biasa aja tanpa ada rasa sedih di wajahnya, namun ternyata setelah pulang
sekolah air matanya tidak tertahankan untuk tidak keluar, katanya dia sangat
takut satu bangku dengan saya, padahal saya termasuk orang pendiam, untunglah
beberapa temennya memberikan semangat hingga dia merasa tenang dan menerima
karena di takdirkan untuk satu bangku dengan saya. yang jelas dia termasuk
sosok inspirasi jugak, selalu memberikan semangat dan selalu meyakinkan bahwa
saya itu bisa mengikuti pelajaran di sekolah.
Sebenarnya
saya bukan ingin bercerita mengenai sejarah persekolahan saya, saya ingin
bercerita bagaimana kondisi media sosial saat sekarang ini. namun kadang tangan
ini merasa ragu untuk menuliskannya apa lagi mengenai keagamaan.
Saya tidak terlahir di dalam lingkungan
pesantren atau di dalam lingkungan yang sangat bernuansa keagamaan. Semua
berjalan biasa saja seperti orang lain pada umunya. Pengetahuan agama pun
sangat kurang.
Namun
dengan kegalauan itu lah saya memberanikan diri untuk melanjutkan ke perguruan
tinggi yang bernuansa keagamaan. Alhamdulilah saya lulus di Universitas Inslam
Negeri Sumatera Utara atau dulu namanya IAIN, saya mengambil jurusan manajemen
dakwah.
Pada
awalnya saya tidak tau mata kuliah apa saja yang saya akan pelajari selama
empat tahun ke depan. Lulus dari sekolah umum sangat asing ketika pada mulanya
saya melihat nama-nama mata kuliah yang akan di pelajari setiap semester.
Pada
awalnya tidak begitu yakin untuk dapat menjalanin perkuliahan yang nama mata
kuliahnya aja begitu agak ngeri seperti yang sudah sangat pinter mengenai
keagamaan, di tambah lagi temen-temen sekelas umumnya adalah lulusan dari
pesantren.
Namun
ya sudah lah, mungkin ini yang terbaik dan ini jalan untuk bisa mengetahui
tentang bagaimana cara beragama yang terbaik.
Seiring
berjalannya waktu, saya menyadari agama itu indah, agama itu damai, agama itu
tulus penuh kejujuran, agama itu sangat toleransi, agama itu sangat memberikan
kebaikan, agama itu memberikan kesempatan, dengan itulah saya heran kenapa
begitu banyak orang sekarang mengatas namakan agama namun bertindak tidak
berdampak kedamaian. Apakah menjust buruknya pemerintahan dengan cara-cara
menyebarkan fitnah itu di perbolehkan.
Saya
memang bodoh saya tidak banyak tau mengenai tafsir dan kandungan tebalnya
sebuah kitab, namun yang jelas, Tuhan akan tahu yang mana orang-orang yang
benar-benar tunduk kepadaNya dan yang mana orang-orang berkhianat.
lakukan
lah walau kamu rasa itu tidak mungkin, sebarkan kebaikan karena berbuat baik
tidak susah, jangan pernah menyombongkan diri, karena kamu tidak akan pernah
tau cerita hidupmu ke depan, hargailah orang yang berusia lebih tua dari mu,
dan hormati orang tua.










